Sabtu, 23 Juli 2011

Semprit Tepung Larut

Sudah setahun, aku pertama kali mendengar kata "tepung larut". Waktu itu, setelah pesta pernikahan lanjutanku di Malang, aku tinggal di rumah mertuaku selama 2 minggu kalo gak salah. Sama si Mas, aku di ajak keliling silahturahmi berkenalan dengan sanak keluarganya. Sampai satu sore, si Mas mengarahkan mobil nya ke arah Lawang. Di sana kami mampir ke rumah Ibu-nya mba' Yayuk (Istri dari Mas-nya si Mas *hihihi* yang pertama, mas Bambang). Suka deh suasana rumahnya, terasa sejuk dan nyaman banget. Salah satu suguhan yang ada di meja, adalah kue semprit yang semula aku kira kue bangkit. Sekali dicicip...byaaarrr...langsung lumer di mulut. Gak terasa (akunya aja yang gak terasa, yang lihat sih terasa banget...hahahaha) aku udah makan banyak kuenya. Si Mas yang lihat aku ngunyah terus, langsung ngomong kencang "Ooh...Enak ya Lia??? suka yaaa???" sambil ketawa-ketawa....huuu sebel! malu-malu-in aja!!!

Ibu-nya mba' Yayuk cuma senyam-senyum aja, trus nyuruh anaknya yang kecil buat ambil kue lagi dari dalam untuk di bawa pulang. Karena tengsin, aku sempat nolak (dalam hati sih seneeeeng...hehehe). Aku heran ngeliat kenapa kue yang di kasihkan ke aku itu udah di pak rapi banget dan ukurannya seragam, kayak beli dimanaaa gitu. Ternyata, kue semprit itu memang dibuat sendiri untuk di titipkan ke beberapa toko. Udah lama banget mereka punya usaha semprit larut ini. Waaahh....aku tambah senang karena ketemu langsung sama ahli-nya kue semprit yang langsung jadi kesukaanku itu. Dari Ibu-nya mba' Yayuk, aku di kasih tau kalo ini namanya kue semprit tepung larut. Aku baru ngerti apaan itu tepung larut. Aku sempat ngotot kalo itu mungkin sagu tani yang biasa dijadiin semprit juga. Gak taunya, tepung larut beda dengan sagu tani karena berasal dari umbi larut/garut. Ada juga yang bilang tepung garut.

Pulang dari Lawang, sampai di rumah aku langsung nanya ke mba' Yayuk. Alhamdulillah, ternyata mba' Yayuk juga bisa bikin semprit larut (ya iyalah, kan sering bantu Ibunya). Mba' Yayuk langsung nyebutin bahan dan cara pembuatannya yang semuanya aku simpan di blackberryku. Beberapa hari setelah itu, aku sempatkan beli tepung larut di supermarket di Malang yang ternyata gak sulit-sulit amat nyarinya. Apalagi kata mba' Yayuk, di pasar tradisional juga banyak. Rencananya, aku mau ngajak mba' Yayuk bikin semprit, sekalian belajar. Sayangnya, gak sempat, aku udah keburu pulang ke Jakarta. Tepungnya aku bawa aja sekalian, buat nanti bikin sendiri. Singkat cerita, sampe beberapa bulan lalu, itu tepung udah mangkal di rumah Jakarta, sampe aku bawa ke Jambi, tetap gak di bikin juga. Akhirnya, dengan berat hati, aku buang, udah expired....hiiiks!! (udah setahun euy!).

Naaah...sebelum our first anniversary (duileee...), aku sempat kebayang mau nyobain bikin kue semprit ini. Apalagi, waktu si Mas pulang ke Malang, dititipi kue semprit ini dari mba' Yayuk dan Papa-ku ternyata suka banget, ludes waktu aku letakkan di depan TV kamarnya. Aku nanya di beberapa toko di Jambi, gak ada yang tau tepung larut. So, pas ke Jakarta, aku jalan ke Sogo food hall. Eeeh...malah ketemu tepung larut (garut). Kemasannya lebih ekslusif dan harganya juga ekslusif. Padahal kalo beli di pasar Singosari (kampungnya si Mas) harganya gak nyampe puluhan ribu tuh. Mungkin karena yang ini dari bahan organic kali yaaa. Karena udah kepepet pengen bikin, aku beli aja deh. Sampai kemarin, tepungnya cuma mangkal aja di lemari. Hingga beberapa hari lalu di milis ada yang nanya soal semprit tepung larut ini (ternyata tepung ini baik buat pencernaan, banyak khasiatnya lho!). Aku jadi keingat lagi sama resepnya mba' Yayuk. So, kemaren aku paksakan aja buat bikin. Kebetulan abis sarapan pagi di warung nasi gemuk langganan kita (kalo di Jambi, coba deh ke samping bioskop ria, nasi gemuknya unik, pake suwiran ayam berkuah...keluargaku udah makan disitu dari jaman aku SD dulu) sama si Mas, kak Ika n' Riri, kita nyambung belanja di pasar Kebun Handil. Kak Ika belanja udang, aku beli santan buat bikin semprit.

Setelah aku coba bikin, baru aku ngerti kenapa mba' Yayuk bilang, sebaiknya persiapkan santan dan tepungnya sehari sebelum di bikin. Ternyata, emang lamaaaa..... untung ada si Mas yang nemanin, udah bikinnya lama, nunggu dinginnya juga lumayan makan waktu. Pertama, memasak santannya. Aku pake api yang kecil aja (karena kata mba' Yayuk, digodog selama 1 jam-an). Setelah itu sangrai tepungnya, yang ini aku juga pake api kecil aja supaya gak lengket. Setelah semuanya betul-betul udah dingin (suhu ruang), baru bisa dipakai buat bikin-bikin. O ya, yang beda dari resep ini, pakai santan yang udah dimasak sampai kecoklatan (sampai hampir menjadi minyak). Menurutku, ini yang bikin unik dan rasanya jadi gurih dan harum banget. Dulu aku kira bintik-bintik kecoklatan di semprit buatan Ibu-nya mba' Yayuk berasal dari kelapa parut (seperti aku bikin kue bangkit jehe dulu). Ternyata, berasal dari santan yang di masak ini.

Setelah adonan jadi, gak sabar aku pengen mulai "nyemprit" adonannya sambil nyobain beberapa spuit untuk mendapatkan bentuk yang aku suka. Aku sendiri lupa bentuk semprit ala Ibu-nya mba' Yayuk itu berbentuk huruf "S" atau angka "8". Aku yang semula yakin dengan bentuknya seperti huruf "S", jadi ragu waktu si Mas bilang sepertinya angka "8". Akhirnya, tetap aja aku bikin seperti huruf "S", singkatan dari kata "Semprit"....hahahahaha...*sok nyambung*. Setelah matang, si Mas aku suruh nyicipin, rasanya mirip gak dengan semprit ala mba' Yayuk (rasanya doang, bentuknya jangan di tanya, lha punyaku ini lebih mirip konde dari pada huruf "S" ataupun angka "8"...hihihi...). Si Mas langsung kasih jempol dan bilang udah pas, gak lama ada bang Baraq yang mampir, juga bilang enak. Mantap deh ini jadi salah satu kue yang aku bikin buat lebaran nanti. Humm...mesti telpon mba' Yayuk dulu minta di kirimin tepungnya ke Jambi.

Cara pembuatannya, aku sedikit beda dari yang di terangkan mba' Yayuk, tapi it works for me. Jadi sesuaikan saja mana yang pas. Gula boleh di kurangi kalo gak suka manis, begitu juga jumlah santannya. Aku sendiri waktu santan di masak pertama (masih agak cair) aku sisihkan sekitar setengah gelas. Tujuannya, karena di-spuit satu-per-satu, dan loyangku terbatas, adonan yang menunggu mengeras sendiri sehingga sulit buat di spuit, jadi aku tambahkan aja santan yang di sisihkan tadi, sampai adonan bisa di spuit lagi.

Ini resepnya ya...



SEMPRIT TEPUNG LARUT
Mba' Yayuk-nya Camelia


Bahan :

500 gr tepung larut/garut/arrowroot
200 gr tepung kanji (gunakan yang berkualitas baik)
Campur kedua tepung tersebut, sangrai hingga warnanya terlihat buram. Dinginkan.

200 gr margarine
250 gr gula halus
4 btr kuning telur
Santan kental yang di godog sampai hampir menjadi minyak, 1 kelapa bisa untuk 2 resep (kalo aku, 450 ml santan kental, dipanaskan, saat mulai matang, aku sisihkan 1/2 cup, sisanya di masak hingga kecoklatan dan berminyak. Gunakan api kecil saja, sambil diaduk sesekali).

Caranya :

  • Kocok gula, telur dan margarine hingga kembang (lk. 5 menit).
  • Masukkan tepung dan santan, aduk rata dengan sendok kayu.
  • Semprit dan panggang hingga matang.
  • (Kalo aku setelah gula, telur dan margarine di kocok hingga kembang, aku masukkan santan dan kocok sebentar. Baru setelah itu masukkan tepung sedikit-sedikit, spuit dan panggang hingga matang).
PS : Santan yang di sisihkan tadi, digunakan saat adonan mengeras (sulit untuk di spuit), tambahkan santan sedikit demi sedikit kedalam adonan, aduk sehingga mendapatkan tekstur yang diinginkan (mudah untuk di spuit).






Sample 2 “Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia” . (Bung Karno) “Tidak seorang pun yang menghitung-hitung: berapa untung yang kudapat nanti dari Republik ini, jikalau aku berjuang dan berkorban untuk mempertahankannya”. (Pidato HUT Proklamasi 1956 Bung Karno) “Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian, bahwa kekuasaan seorang presiden sekalipun ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanyalah kekuasaan rakyat. Dan diatas segalanya adalah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.” (Soekarno) “Apabila di dalam diri seseorang masih ada rasa malu dan takut untuk berbuat suatu kebaikan, maka jaminan bagi orang tersebut adalah tidak akan bertemunya ia dengan kemajuan selangkah pun”. (Bung Karno) “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya.” (Pidato Hari Pahlawan 10 Nop.1961) “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” – Bung Karno “Bangsa yang tidak percaya kepada kekuatan dirinya sebagai suatu bangsa, tidak dapat berdiri sebagai suatu bangsa yang merdeka.” (Pidato HUT Proklamasi 1963 Bung Karno) “……….Bangunlah suatu dunia di mana semua bangsa hidup dalam damai dan persaudaraan……” (Bung Karno) Untuk memilih jenis tomat yang akan ditanam hendaknya sesuaikan dahulu dengan karateristik lokasi. Apabila kebun Anda berada di dataran tinggi pilihlah varietas yang cocok untuk dataran tinggi begitu juga sebaliknya. Benih tomat bisa didapatkan dengan mudah diberbagai toko penyedia saprotan. Apabila Anda sulit mendapatkannya atau harganya terlalu mahal, kita bisa membuatnya sendiri. Caranya dengan menyeleksi buah tomat yang paling baik dari segi ukuran (besar) dan bentuk (tidak cacat). Langahnya sebagai berikut, pilih buah tomat yang akan dijadikan benih. Kemudian biarkan buah tomat tersebut menua di pohon. Setelah cukup tua ambil bijinya dan bersihkan dari lendir yang menyelubunginya dengan air. Setelah itu rendam dalam air, pilih biji yang tenggelam. Kemudian lakukan seleksi sekali lagi terhadap biji tomat, pilih yang bentuknya sempurna(tidak cacat atau keriput). Langahnya sebagai berikut, pilih buah tomat yang akan dijadikan benih. Kemudian biarkan buah tomat tersebut menua di pohon. Setelah cukup tua ambil bijinya dan bersihkan dari lendir yang menyelubunginya dengan air. Setelah itu rendam dalam air, pilih biji yang tenggelam. Kemudian lakukan seleksi sekali lagi terhadap biji tomat, pilih yang bentuknya sempurna (tidak cacat atau keriput).

Please Enable JavaScript!
Mohon Aktifkan Javascript![ Enable JavaScript ]