Rabu, 02 November 2011

Masuba


Masih ingat gak sama temanku Ika Trisna?? well, kalo lupa atau blom sempat kenal si Ika yang satu ini, boleh lihat resep lapis legitnya di sini. Waktu bikin lapis legit itu, aku udah nodong si Ika minta diajarin bikin salah satu kue lapis tradisional Jambi, kue masuba. Sayangnya waktu itu udah mepet, jadi gak sempat lanjut ke masuba. Akhirnya, hari Sabtu lalu, kita bisa ngumpul buat bikin kue bareng lagi *cihuuuy!*, tapi kali ini pesertanya nambah, ada Nur dan Della keduanya teman dekatku dari SMA juga. Setelah semua ngumpul, apes banget, PLN matiin lampu *of course!!*, sedangkan aku kan pake oven listrik. Terpaksa deh bikin kue yang mestinya siang, jadi nya sore banget baru mulai. Syukurlah emang pada dasarnya kita suka ngumpul sambil ngobrol kesana kemari, gak bosen juga. Apalagi, setelah itu kita iseng nyobain tempat totok wajah di dekat rumah. Asyiiiikkkk..... abis di totok kepala rasanya ringan banget. Kebetulan yang punya totok wajah ini mba' Wari, kakaknya si Dian, teman SMA juga (kalo aku malah dari SMP) yang jago nyanyi itu.

By the way, sebelum ngomong soal bikin kue-nya, aku yakin pasti ada yang bertanya-tanya, koq mirip kue Palembang ya??? well, emang iya, di Palembang pasti ada. Banyak banget masakan maupun makanan di Jambi yang sama dengan di Palembang. Selain dekat, mungkin karena dulunya sama-sama Sumatera Bagian Selatan, jadi gak beda jauh. Di Jambi sendiri, namanya lain-lain, walaupun kedengarannya sama, ada yang bilang Maksuba, Masubah dan di keluargaku namanya Masuba. Kalo di Jambi, kue jenis ini selain untuk sajian hari-hari besar, juga buat hantaran pengantin bersama kue lain yang sama manisnya. Kue yang pake telur banyak dan jumlah gula yang ampun-ampunan juga banyaknya. Misalnya kue Putri Kandis, kue Senting, kue 8 jam dan Engkak Ketan....humm...jadi pengen koleksi semua resepnya!

Karena manis, potongan kuenya gak tebal dan gak besar. Kata sodaraku, memang fungsinya untuk manis-manis aja. Makannya dikit, gak banyak-banyak. Jadi jangan coba-coba di potong seperti cake, bisa keblenger yang makannya, kasian...hahahaha...

So, kembali ke cerita aku dan temanku tadi, abis totok wajah kita balik lagi kerumahku. Trus aku ada ide pinjam oven tangkringnya kak Ika supaya tetap bisa dibikin. Jadi deh, kita bikin masuba bareng, walaupun udah sore. Kalo ngeliat si Ika mencampur bahan, kelihatannya bikin kue ini gak susah-susah amat. Semua cukup di aduk pake whisk aja sampe gula larut (gak perlu mengembang). Manggangnya juga gak lama, lapisannya lumayan cepat matang, apalagi gak lama setelah kita ngelapis 3 lapisan, lampu hidup, langsung deh pindah ke oven listrik pake api atas. Ini jauh lebih cepat daripada oven tangkring. Kacian deh, teman-temanku yang pulang udah hampir jam 8.30 malam...mana kuenya gak bisa dibawa karena belum dingin...hihihihihi...

Anyway, kue masuba ini memang sejenis kue lapis, tapi jangan disamakan dengan lapis legit. Masuba teksturnya lebih lembut banget dan egg-y karena gak pake tepung atau pake tepung dengan jumlah yang sedikit sekali. Yep, ada banyak resep masuba yang sering digunakan. Ada yang pake mentega cair, ada yang pake tepung, ada juga yang cuma suka masuba pake telor bebek. Tapi diantara semua resep itu, pasti ada kesamaan, telur dan gulanya banyak!. Kalo resep Ika ini, gak pake tepung sama sekali dan menteganya gak perlu di cairin. Karena (nyaris) gak ada tepung, lapisan masuba gak bisa lurus rapi banget seperti kue lapis biasa ataupun lapis legit. Saat dipanggang, adonan akan membentuk gelembung, biarkan saja sampai ada bercak kecoklatan, lalu keluarkan. Gelembungnya tinggal ditusuk-tusuk dengan tusuk gigi atau garpu, tekan dengan alat perata kue lapis (waktu kita bikin, pake gelas aja...hahaha...), baru deh tuang adonan lapisan berikutnya. Lakukan hal yang sama sampe adonan abis. Beres.

Rasa masubah Ika ini udah pas menurutku, apalagi jumlah gulanya dikurangi jauh lebih sedikit dari ukuran sebenarnya (aslinya hampir satu kilo lho!). Bau telurnya udah gak terlalu kentara karena waktu bikin gak nemu vanilli, jadi pake vanilla extract *haha*. Karena aku suka (dan terbiasa) sama kue manis-berlemak begini, menurutku masuba ini enak. Tapi buat si Mas, dia cuma sanggup makan secukupnya aja alias dikiiiiit banget....hehehehe....


MASUBA
Ika Trisna


Bahan :

20 btr telur
200 gr margarin
500 gr gula pasir (aslinya 1 kg, sesuaikan aja dengan manis yg diinginkan)
1 kaleng susu kental manis
1/2 sdt vanilli ---> kita pake 1 sdt vanilla extract

Caranya :

  • Siapkan loyang ukuran 22 x 22 cm, olesi bagian bawahnya saja dengan mentega, lapisi kertas baking, olesi lagi dengan mentega. Sisihkan.
  • Whisk telur dan gula dalam wadah cukup hingga tercampur dan gula larut. Saring. Masukkan vanilli, susu kental manis, whisk hingga rata, masukkan mentega, aduk hingga mentega berbutir. Mentega gak akan larut, but dont worry, mamang begitu koq.
  • Tuang sekitar 1 cup adonan ke loyang, ratakan. Masukkan ke dalam oven yang telah di panaskan.
  • Apabila permukaannya ada kecoklatan, keluarkan, tusuk gelembungnya dengan tusuk gigi atau garpu. Lalu ratakan dengan alat untuk meratakan adonan lapis legit yang telah diolesi mentega. Tuang lagi adonannya. Lakukan terus hingga adonan habis.



Sample 2 “Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia” . (Bung Karno) “Tidak seorang pun yang menghitung-hitung: berapa untung yang kudapat nanti dari Republik ini, jikalau aku berjuang dan berkorban untuk mempertahankannya”. (Pidato HUT Proklamasi 1956 Bung Karno) “Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian, bahwa kekuasaan seorang presiden sekalipun ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanyalah kekuasaan rakyat. Dan diatas segalanya adalah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.” (Soekarno) “Apabila di dalam diri seseorang masih ada rasa malu dan takut untuk berbuat suatu kebaikan, maka jaminan bagi orang tersebut adalah tidak akan bertemunya ia dengan kemajuan selangkah pun”. (Bung Karno) “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya.” (Pidato Hari Pahlawan 10 Nop.1961) “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” – Bung Karno “Bangsa yang tidak percaya kepada kekuatan dirinya sebagai suatu bangsa, tidak dapat berdiri sebagai suatu bangsa yang merdeka.” (Pidato HUT Proklamasi 1963 Bung Karno) “……….Bangunlah suatu dunia di mana semua bangsa hidup dalam damai dan persaudaraan……” (Bung Karno) Untuk memilih jenis tomat yang akan ditanam hendaknya sesuaikan dahulu dengan karateristik lokasi. Apabila kebun Anda berada di dataran tinggi pilihlah varietas yang cocok untuk dataran tinggi begitu juga sebaliknya. Benih tomat bisa didapatkan dengan mudah diberbagai toko penyedia saprotan. Apabila Anda sulit mendapatkannya atau harganya terlalu mahal, kita bisa membuatnya sendiri. Caranya dengan menyeleksi buah tomat yang paling baik dari segi ukuran (besar) dan bentuk (tidak cacat). Langahnya sebagai berikut, pilih buah tomat yang akan dijadikan benih. Kemudian biarkan buah tomat tersebut menua di pohon. Setelah cukup tua ambil bijinya dan bersihkan dari lendir yang menyelubunginya dengan air. Setelah itu rendam dalam air, pilih biji yang tenggelam. Kemudian lakukan seleksi sekali lagi terhadap biji tomat, pilih yang bentuknya sempurna(tidak cacat atau keriput). Langahnya sebagai berikut, pilih buah tomat yang akan dijadikan benih. Kemudian biarkan buah tomat tersebut menua di pohon. Setelah cukup tua ambil bijinya dan bersihkan dari lendir yang menyelubunginya dengan air. Setelah itu rendam dalam air, pilih biji yang tenggelam. Kemudian lakukan seleksi sekali lagi terhadap biji tomat, pilih yang bentuknya sempurna (tidak cacat atau keriput).

Please Enable JavaScript!
Mohon Aktifkan Javascript![ Enable JavaScript ]