Jumat, 07 Mei 2010

Coffee Marble Cake

Duuuh...kuenyaaang..

Tadi abis refleksi sama kak Ika n' Dea, trus muter-muter sekitar kawasan Murni nyari sate. Jadi kenyang deh. Hum...buat yang belum pernah ke Jambi, kawasan ini wajib kunjung buat wisata kuliner malam. Ada makanan yang biasa seperti sate, nasi goreng, seafood, sampe mie celor dan martabak India, di sini tempatnya. Aku dari kecil sering banget sama ortu ku makan di sini. Padahal ortu ku itu dulu tugasnya di kabupaten yang jaraknya 1 jam dari kota Jambi. Sambil ngantuk-ngantuk aku tetap hepi kalo di ajak ortu maem di sana sebelum pulang ke kabupaten. Ada satu toko tempat keluarga ku suka mangkal namanya Mentari (kalo gak salah, gak pernah meratiin sih..hihihi) di situ kwetiau nya enak dan satenya juga. Di tempat itu pertama kali little me and my brother nyoba susu beruang (gak yakin namanya itu, tapi ada gambar beruang...bear brand..hihihi) plus sirup coco pandan plus es batu. Saking doyannya, Papaku sampe sering beliin kita susu yang dulunya di kaleng pendek itu. Ibuku pun selalu nyetok sirupnya di rumah. Apalagi kalo bulan puasa, belanjaan wajib tuh. Sampai sekarangpun, aku sahurnya itu...teteeeuup pake es (padahal subuh ya!). Udah sugesti kalo minum itu, gak berasa lapar...hahahaha...

Enough about murni...
Ini postingan ku yang kedua nyambung yang tadi setelah terpotong ajakan kak Ika buat refleksi. Aku emang ada kenangan tersendiri sama cake marmer. Waktu aku SMP, aku di suruh Ibuku ke rumah tante Aini (kakak Ibuku) yang punya hotel. Tanteku ini jago masak dan jago bikin kue. Orangnya baiiik banget, suaranya lembut dan sayaaaang banget sama aku. Tiap kali ortu ku tugas dan mesti meninggalkan rumah cukup lama, Tante Ainilah penyelamat perutku dan abangku dari masakan ngasal para asisten rumah tangga. Dua kali sehari, supir hotel bakalan nganterin rantangan berisi lauk pauk yang enak-enak. Bahkan pake acara nanya aku mau minta di masakin apa. Tentu saja, tante Aini sebel kalo Ibuku nanya berapa kateringnya. Dia selalu bilang, anak-anaknya makan gak ada yang bayar. Wajarkan waktu terakhir Ibuku sakit-sakitan, beliau cerita ke aku kalo kangen banget sama tante Aini yang sudah lebih dulu meninggalkan kami (beliau wafat aku masih di Amrik). Duuh....jadi kangen sama Ibu dan Tanteku itu, alfatihah ya buat mereka....

O ya, tante Aini juga punya satu anak perempuan, kak Peni. Beliau beberapa tahun lebih tua dari aku dan udah seperti kakak perempuan beneran buat aku (mungkin karena kita sama-sama anak perempuan satu-satunya kali ya). Nah, waktu itu pas dekat lebaran, Ibuku nyuruh ikutan waktu kak Peni dan tante Aini yang mau bikin kue. Aku diantar ibuku ke hotel beliau (kebetulan tante memang tinggal di belakang hotelnya) lengkap dengan margarine, telor, tepung yang seabrek-abrek. Tante Aini menyambut aku dengan senyam senyum, apalagi ngeliat aku yang cemberut aja di tinggalin Ibuku yang lanjut shopping buat persiapan puasa...hehehe... Aku gak ingat kue apa aja yang di ajarkan tante Aini, tapi aku ingat sama cake marmer. Aku masih ingat jelas tante ngajarin aku cara mencairkan margarine dan nyodorin sendok, lalu aku disuruh muter-muter adonan coklatnya pake tangkai sendok. Aku langsung kagum melihat coklatnya jadi kayak batik. Duuuh...kalo tante ku itu tau sekarang aku suka baking suka rela tanpa cemberut, dia bisa terharu kali ya... (terharu atau gak yakin ya...hehehe)

Beberapa hari terakhir, aku pengeeeen banget makan cake marmer seperti yang dulu. Tapi males bikinnya...(yeeee!) lagian, setiap resep cake marmer yang aku temui, selalu menteganya di kocok dan tidak di cairkan. Akhirnya tadi pagi aku iseng aja nyoba bikin cake marmer versi sendiri. Aku dapat gambaran dari resep bolu gulung ekonomis itu, soale margarinnya kan di cairkan. Mulai deh aku bikin-bikin. Untuk warna coklatnya, aku pake kopi Jambi yang wangiiiii.... biar beda maksudnya (padahal emang gak punya coklat bubuk...hihihihi). Ternyata, kopinya bikin kuenya jadi wangiiii banget waktu di oven. So, aku benar-benar rekomen, kalo bikin kue ini pake kopi Indonesia aja, yang bijinya masih terasa (gak instant). Rasanya???hum...baik rasa maupun teksturnya mirip sama bolu jadul yang di ajarkan tanteku dulu. Yang bikin beda, waktu kegigit bagian berwarna hitam, mulai terasa kopinya. Udah dapat pujian kayak kak Ika, yang katanya kalo bikin lagi, harus tetap pake kopi. Siiip deh...namanya jadi Coffee Marble Cake donk!

Ini resepnya...



COFFEE MARBLE CAKE

by. Camelia

Bahan :
4 btr telur utuh
2 butir kuning telur
75 gr tepung terigu
25 gr susu bubuk
90 gr gula pasir
1/2 sdt vanilli bubuk
1oo gr margarine, cairkan

Larutan kopi :
1 sdm kopi bubuk (jangan yang instant ya, kopi tubruk aja)
larutkan dengan 2 sdm air panas(hingga berubah menjadi pasta)


Caranya :
  • Siapkan loyang, olesi margarine dan taburi tepung, sisihkan.
  • Kocok telur dan gula pasir, vanilli hingga benar-benar kental dan berjejak
  • Masukkan tepung, susu bubuk dan aduk balik hingga rata, lalu masukkan margarine cair, aduk balik hingga benar benar rata.
  • Ambil beberapa sendok adonan, campur dengan larutan kopi aduk rata.
  • Tuang adonan tanpa kopi ke dalam loyang (aku pake loyang kotak ukuran 18 cm) lalu tuang adonan berkopi diatasnya, sebarkan ke beberapa tempat.
  • Gunakan tangkai sendok, aduk adonan berkopi dengan gerakan memutar hingga berbentuk marmer.
  • Panggang di oven hingga matang.

PS : Untuk anak-anak, ganti kopi dengan pasta cokelat adza.




Sample 2 “Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia” . (Bung Karno) “Tidak seorang pun yang menghitung-hitung: berapa untung yang kudapat nanti dari Republik ini, jikalau aku berjuang dan berkorban untuk mempertahankannya”. (Pidato HUT Proklamasi 1956 Bung Karno) “Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian, bahwa kekuasaan seorang presiden sekalipun ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanyalah kekuasaan rakyat. Dan diatas segalanya adalah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.” (Soekarno) “Apabila di dalam diri seseorang masih ada rasa malu dan takut untuk berbuat suatu kebaikan, maka jaminan bagi orang tersebut adalah tidak akan bertemunya ia dengan kemajuan selangkah pun”. (Bung Karno) “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya.” (Pidato Hari Pahlawan 10 Nop.1961) “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” – Bung Karno “Bangsa yang tidak percaya kepada kekuatan dirinya sebagai suatu bangsa, tidak dapat berdiri sebagai suatu bangsa yang merdeka.” (Pidato HUT Proklamasi 1963 Bung Karno) “……….Bangunlah suatu dunia di mana semua bangsa hidup dalam damai dan persaudaraan……” (Bung Karno) Untuk memilih jenis tomat yang akan ditanam hendaknya sesuaikan dahulu dengan karateristik lokasi. Apabila kebun Anda berada di dataran tinggi pilihlah varietas yang cocok untuk dataran tinggi begitu juga sebaliknya. Benih tomat bisa didapatkan dengan mudah diberbagai toko penyedia saprotan. Apabila Anda sulit mendapatkannya atau harganya terlalu mahal, kita bisa membuatnya sendiri. Caranya dengan menyeleksi buah tomat yang paling baik dari segi ukuran (besar) dan bentuk (tidak cacat). Langahnya sebagai berikut, pilih buah tomat yang akan dijadikan benih. Kemudian biarkan buah tomat tersebut menua di pohon. Setelah cukup tua ambil bijinya dan bersihkan dari lendir yang menyelubunginya dengan air. Setelah itu rendam dalam air, pilih biji yang tenggelam. Kemudian lakukan seleksi sekali lagi terhadap biji tomat, pilih yang bentuknya sempurna(tidak cacat atau keriput). Langahnya sebagai berikut, pilih buah tomat yang akan dijadikan benih. Kemudian biarkan buah tomat tersebut menua di pohon. Setelah cukup tua ambil bijinya dan bersihkan dari lendir yang menyelubunginya dengan air. Setelah itu rendam dalam air, pilih biji yang tenggelam. Kemudian lakukan seleksi sekali lagi terhadap biji tomat, pilih yang bentuknya sempurna (tidak cacat atau keriput).

Please Enable JavaScript!
Mohon Aktifkan Javascript![ Enable JavaScript ]